Tangis Keadilan  Turap Danau Tajwid

Opini : HM. Rojuli

Kegalauan akan keadilan di negeri ini memuncak atas fenomena runtuhnya langit keadilan yang disangga aparat penegak hukum dan lemabaga yudikatif, (Sulitnya mencari keadilan hukum di negeri ini, by Tim FH UNJA)

Andaikan tanggul turap destinasi wisata Danau Tajwid bisa menjerit maka kekuatan jeritannya akan jauh terdengar sampai ke seantero dunia. Andaikan juga dia bisa merasa kesakitan maka rasa sakit itu sampai di lubuk hati yang paling dalam. Begitulah tragisnya kasus yang dialami turap Danau Tajwid.

Seakan keadilan tak setegab dan sekokoh beton kontruksi turap itu. Keadilan hanya sebagai panggung lakon drama tragis. Kata adil itu telah dihanyutkan bahkan dihempaskan di Sungai Kampar dan hanyut sampai ke laut lepas. Tangan-tangan penguasa dan penegak hukum cuci tangan dengan air kotor.

Hukum atas dasar kebenaran telah semu. Keadilan hanya tinggal bunyi yang tak ada arti. Keadilan dan kebenaran terkikis oleh oknum penguasa. Apakah hukum beradab tak lagi di negeri ini ?

Kemudian muncul lagi pertanyaannya pakah hukum yang berperikemanusiaan, kebenaran, keadilan masih ada di turap destinasi Danau Tajwid itu ?

Kusut masai destinasi wisata Danau Tajwid tidak hanya sebatas kasus robohnya turap. Tetapi jauh lebih dari itu. Sandiwara mafia dan oknum pejabat sangat kental bermain.

Kesaksian dan fakta tidak lagi menjadi kekuatan keadilan dan kebenaran. Sungguh hukum dan keadilan itu seperti ‘pesanan sponsor’ untuk menjerat rivalnya.

Kini hanya tangisan anak negeri yang disandiwarakan menjadi sinetron dan menjadi tontonan menarik bagi penikmat kekuatan dan kekuasaan.

Hukum di negeri ini tampaknya tumpul ke atas dan tajam menghujam ke bawah. Hukum di negeri ini rasanya terus berjalan layaknya permainan dan sandiwara, yang salah bisa jadi benar, atau pun sebaliknya. Sekalipun rakyat menagih kebenaran

Kasus turap Danau Tajwid sampai sekarang apakah hanya sebatas itu ? Apabila stop sampai di sini, akan menjadikan publik kian skeptis dan galau terhadap masa depan keadilan hukum.

Ibarat sebuah sinetron ke mana hilangnya, sutradara, aktor-aktor lain robohnya turap itu. Apakah semua telah terbius sehingga menjadi bisu di atas ketidakadilan?

Kepastian hukum kian hari kian tidak menentu, keadilan yang segala-galanya menjadi segalau-galaunya. Terkadang yang berjuang tidak mendapatkan apapun sedangkan yang biasa saja mendapatkan banyak. Hidup kadang selucu itu. Kekuatan yang dimiliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti, tuhan tahu bahwa sudah berbagai usaha yang telah dilakukan untuk melawannya.(Sulitnya mencari keadilan hukum di negeri ini, by Tim FH UNJA).*

 

 

 

 

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.