45% off www.bookhave.com.look at this web-site replica rolex.Under $20 replica watches.you could look here swiss replica watches.Top Seller replique montre de luxe mouvement suisse.Buy now repliki zegark贸w szwajcarskich.Best https://www.fake-watches.icu/.my response www.watchitdoit.com.Wiht 30% Discount fake rolex.click here for more watcheszs.useful reference 1:1 swiss replica watch.my site best place to buy replica watches.Check This Out https://www.pharmacywatches.com/.Top fake patek philippe.great site https://www.sextagheuer.com/.next page franck mueller replica.read this post here fake richard mille.successful feeling noob factory watches.directory bell and ross replica.

BANJIR DI KALSEL, BENCANA EKOLOGIS AKIBAT SALAH MENGELOLA ALAM

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH***

LUKA anak negeri sebagai akibat jatuhnya pesawat Sriwijaya belum kering. Disusul kemudian oleh gempa di Sulawesi Barat, dan pada saat bersamaan, Kalimantan Selatan (Kalsel) dilanda bencana banjir. Ibarat luka, susul menyusul bencana ini datang. Perspektif masa di tahun 2021 yang diawali dengan terjadinya berbagai bencana dengan berbagai sebab. Tentu saja hal ini mengharuskan kita semua, erkontemplasi, apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Sejatinya telah ditemukan jawabnya. Kesalahan dalam cara mengelola alam adalah musababnya. Manakala hal ini tak dihentikan. Musibah alam yang merupakan bencana lingkungan ini tak akan penah beakhir. Solusinya sebenarnya mudah, namun pelaksanaannya yang sulit, dibutuhkan keberanian untuk melawan kesulitan, juga mnelawan kemapanan dari nikmatnya sumber daya alam yang disediakan oleh alam Indonesia yang subur makmur.

Perspektif Alam 

Kita biasanya segera mencari penyebab terjadinya bencana alam dari perspektif alam. Mempertanyakan, mengapa di sepanjang sejarah banjir besar seperti ini tidak pernah terjadi, akan tetapi kali ini teerjadi?. Pemikiran manusia yang notabene sangat terbatas jangkauannya berupaya mencari tahu, mengapa banjir besar melanda kawasan yang selama ini baik – baik saja. Tak pernah banjir, apa lagi sebesar ini.

Banjarmasin misalnya, Kawasan  yang berjuluk kota seribu sungai memang mengalami pasang surut. Hal itu disebabkan kondisi geografis berada pada 0,60 cm di bawah permukaan air laut, Namun pasng air kali ini tak biasanya, mengalami ketinggian dan dalam beberapa hari dan tak pernah surut. Kawasan tinggi yang biasanya tak terjamah air pasang, kali ini tenggelam. Apa lagi di hulu sngai, derasnya air tak saja menenggelamkan rumah dalam jumlah puluhan ribu.  Namun demikian juga mengghanyutkan jembatan, dan merusak infra struktur lain. Kerugian masih belum bisa dipastikan besarnya.

Dalam perspektif alam, segera ditemukan jawabnya kendatipun masih harus dilakukan verifikasi. Bahwa berkurangnya hutan primer dan sekunder yang terjadi dalam rentang 10 tahun terakhir disebut menjadi penyebab terjadinya banjir terbesar di Kalimantan Selatan ini. Sebagaimana dinyatakan pihak berwenang, dalam kaitan ini Tim tanggap darurat bencana di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), memberi pernyataan resmi bahwa pengelolaan yang salah menjadi penyebab bencana klingkungan.. Sebagai solusi (normatif) nya, maka LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak pemerintah untuk mengevaluasi seluruh pemberian izin tambang dan perkebunan sawit di provinsi itu lantaran menjadi pemicu degradasai hutan secara masif. Tujuannya tentu agar bencana serupa tidak terulang.

Dari data yang terpublikasi, bahwa antara tahun 2010 hingga 2020 terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektare dan 47.000 hektare. Pada sisi lain, area perkebunan meluas cukup signifikan, yaitu  219.000 hektare. Kondisi inilah  yang menjadi pemicu dan memungkinkan terjadinya banjir di Kalimantan Selatan. Apa lagi, hal itu diperparah dengan adanya curah hujan pada 12 hingga 13 Januari 2020 sangat lebat berdasarkan pantauan satelit Himawari 8 yang diterima stasiun di Jakarta.

Oleh karena itu secara konseptual, untuk mengantisipasi hal yang sama tidak terjadi di depan sana, manakala hujan berhari-hari dan curah hujan yang besar seperti yang tejadi ini perlu analisis pemodelan yang memperlihatkan apakah pengaruh penutup lahan berpengaruh signifikan  atau tidak. Apa lagi, data yang ia pegang menunjukkan total area perkebunan di sepanjang Daerah Sungai (DAS) Barito kini mencapai 650.000 hektare. Jika dibandingkan dengan luasan hutan di sekitar DAS yang mencapai 4,5 juta hektare, maka perkebunan telah menghabiskan 12 hingga 14% dari keseluruhan area.

Over Peruntukan

Khususnya pengelolaan kawasan yang berbasis perkebunan, nampaknya menjadi saham terbesar tejadinya banjir. Paling tidak Kawasan yang selama ini hijau dengan areal hutan, telah berubah menjadi kawasan perkebunan dalam jumlah yang bisa disebut berlebihan atau over capacity.  Sekaitan dengan hal ini dipahami bahwa perkebunan itu berhubungan dengan ekonomi, tapi harus diperhatikan unsur lingkungannya. Berdasarkan pantauan yang dilakukan LAPAN setidaknya ada 13 kabupaten dan kota yang terdampak banjir, tujuh di antaranya luas genangan banjir mencapai 10.000 sampai 60.000 hektare.

Di Kabupaten Barito Kuala, luas genangan 60.000 hektare, Kabupaten Banjar 40.000 hektare, Kabupaten Tanah Laut sekitar 29.000 hektare, Kabupaten Hulu Sungai Tengah kira-kira 12.000 hektare, Kabupaten Hulu Sungai Selatan mencapai 11.000 hektare, dan Kabupaten Tapin 11.000 hektare. Berdasarkan hal ini, dari analisis yang secara komprehensif dilaksanakan menunjukkan bahwa  50% dari lahan di Kalimantan Selatan telah beralih fungsi menjadi tambang batubara dan perkebunan sawit. Konkretnya areal pertambangan mencapai 33%, sawit 17%.

Merujuk pada kondisi itu, sejatinya telah disampaikan bebagai peringatan oleh pihak berkompeten tengang kondisi membahayakan. Konkretnya bahwa provinsi Kalsel  dalam kondisi darurat bencana ekologis dan konflik agraria. Namun hambatan mendasarnya bahwa mayoritas pemilik tambang maupun sawit adalah perusahaan skala besar. Secara administrative perijinan yang dikeluarkan berasal dari Pusat yang sarat dengan berbagai kepentingan, tidak saja ekonomis tetapi sudah merembes ke politik dan membawa dampak kepada kondisi sosial yang massif, sehingga sulit sekali untuk diperbaiki kembali.

Oleh karena itu, sejatinya pihak yang tahu mengenai kondisi obyektif dari alam ini tidak terkejut manakala bencana ekologis itu terjadi saat ini dan yang terparah dari tahun-tahun sebelumnya. Memang banjir besar pernah terjadi tahun 2006 tapi tidak sampai merendam 13 kabupaten dan kota. Ini yang terbesar, dan serba menyusahkan karena ketika musim hujan, banjir setiap tahun kalau musim kemarau kekeringan dan menyebabkan terjadinya kebakaran lahan. Kendatipun terkesan sia – sia, maka harus tetap diteriakkan agar  pemerintah melakukan mengevaluasi secara menyeluruh izin-izin yang dikeluarkan. Sebab pastinya bahwa alih fungsi lahan tersebut menyebabkan degradasi hutan.

Ihwal audit lingkungan ini bukannya tidak didesakkan kepada pemerintah. Namun masalahnya memang tidak sederhana. Dari perhitungan konkret, bahwa   antara 2010 hingga 2020 terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektare dan 47.000 hektare. Dari pengelolaan lahan ini, harusnya pemerintah benar – benar tegas. Hal ini yang dibutuhkan saat ini. Tepatnya ketika audit ada operasi tambang maupun perusahaan sawit yang dianggap memicu bencana, maka ia berharap pemerintah berani mencabut izin tersebut.

Ketegasan ini yang selama ini tidak dimiliki pemerintah, karena berbagai pertimbangan khususnya secara ekonomis. Secara sederhana ketika mekanisme perijinan tidak tegas, dan eksplorasi terehadap alam terus dilalukan tanpa kendali maka bencana lingkungan tetap menghantui dan dalam hitungan sederhana tidak mungkin dihentikan. Senantiasa menjadi momok yang terus – menerus menghantui kehidupan.***

*** Notaris, Pengurus Pusat INI (Ikatan Notaris Indonesia) Universitas Diponegoro,  Dosen Sekolah Tinggi Ilmu  Hukum Habaring Hurung Sampit Kalimantan Tengah.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.