Janda-janda Tua Korban Teknopolitan, Pembangunan ini Untuk Siapa

Suaraburuhnews.com – Langgam – Ketika wartawan suaraburuhnews.com melakukan investigasi ke rumah janda – janda tua di Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau beberpa waktu yang lalu, kondisi perekonomian mereka sangat memprinhatinkan sekali.

Janda-janda tua ini ada sebagian menjadi nelayan tradisional, jadi pekerja harian dan ada juga mengharap hasil tanaman di lingkungan rumahnya.

Misalnya, ST (58) janda tua ini hari-harinya sebagai nelayan tradisional. Hampir setiap harinya waktunya habis bermandikan air Sungai Kampar untuk mencari ikan untuk menafkahi anak-anaknya.

“Kadang ado dapek (ada dapat- red) ikan, kadang indak (tidak-red). Kalau banyak dapek ikan, bisa lah balanjo (belanja-red). Terkadang ikan banyak dapek ogo (harga-red) pula yang murah,” ujar ET saat dijumpai di pinggir Sungai Kampar Kelurahan Langgam ketika akan pulang ke rumahnya.

ET sebagai nelayan tradisional sebagai pilihannya untuk biaya menghidupi anak dan cucunya. Walau anak-anaknya sudah berkeluarga semua dan memiliki cucu namun penghasilan anaknya tak seberapa.

Lain halnya yang dialami oleh SY (60). Hari-harinya hanya di rumahnya saja. Karena tak bisa kemana-mana diakibatkan sakit yang dideritanya yang sudah menahun.

“Setiap hari ambo (aku-red) di uma (rumah-red) yo nyo (tak kemana-mana-red). Badan kadang sakik (sakik-red) tak bisa bajalan (berjalan-red). Biaya iduik (hidup) diberi anak,” kata SY kepada suaraburuhnews.com dengan berhiba.

SY juga menuturkan bahwa anak-anaknya dalam sekali sebulan datang ke rumahnya untuk melihatnya dan sambil mengantarkan uang belanja.

SY mempunyai anak laki-laki sebanyak 4 orang. Dan anaknya pada umumnya berkeluarga di luar Kelurahan Langgam.

Janda-janda tua ini adalah pemilik lahan garapan sosial seluas 2 Hektare yang dibantu melalui program Menteri Sosial RI Nani Soedarsono pada zaman orba. Lahan garapan sosial itu diduga telah dicaplok oleh program teknopolitan Kabupaten Pelalawan propinsi Riau. Dan sampai saat ini hak mereka itu seperti dilenyapkan begitu saja oleh pemkab Pelalawan dengan keptingan oknum tertentu.

Sudah silih berganti Mentri dan selevel mentri berdatangan ke sini. Entah apa misi mereka para pejabat itu untuk datang ke teknopolitan. Besok Rabu (16/1) lagi Menko Kemaritiman juga ke lahan yang sama.

Tak henti duit mengucur ke program yang tak tentu misinya ini. Pembangunan jembatan, jalan dan sekolah untuk masyarakat terkendala karena tak ada anggaran. Namun kalau untuk tamu pusat seperti mudah saja mengucur duitnya.

Pertanyaannya untuk siapa program teknopolitan ini, apakah benar-benar untuk masyarakat Pelalawan atau untuk kepentingan oknum pejabat pusat sampai ke daerah? Wallahu ‘alam bisawaf. (sbnc/01).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.