PORAKPORANDA, EKONOMI INDONESIA DIBAWAH BAYANG PERANG DAGANG AMERIKA DAN CHINA

Opini : Heri Kurnia

Pengaruh perang dagang antara Amerika dan China sebagai Negara adidaya dan kiblat ekonomi dunia bukan isapan jemopol belaka.  Perang dagang sendiri merupakan situasi dimana Negara-negara yang melakukan perdagangan internasional berusaha mengurangi persaingan impor melalui penggunaan tarif, kuota dan halangan impor lainnya serta memperluas ekspor melalui insentif ekspor, tentu hal ini mengakibatkan peningkatan proteksionisme suatu negara yang biasanya berbalik merugikan diri sendiri sehingga mengakibatkan suatu penurunan dalam suatu volume perdagangan internasional dan tingkat pendapatan dunia. ditengah interdependensi dunia yang makin menguat, muncul pemain baru dalam bidang perdagangan internasional, yakni china.

Pemerintah China sendiri mengandalkan sektor alat elektronik dan industri semi konduktor berbiaya murah sebagai komoditas utama ekspor Tiongkok ke luar negeri. Komponen-Komponen dasar dari pada komoditas ekspor China sendiri sejatinya berasal dari Amerika Serikat. Komponen-komponen tersebut dikirim ke China oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat untuk dirakit di Negara China. Ketika komponen tersebut selesai dirakit, lalu dikirim kembali dalam bentuk komponen utuh ke Amerika Serikat, hal tersebut kini tercatat sebagai aktivitas impor oleh Amerika Serikat.

Sebagai kiblat negara-negara ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat dan China memiliki pengaruh besar dalam perekonomian global yang sudah terstruktur hingga saat ini, sehingga dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China dapat berpengaruh secara global termasuk perekonomian Indonesia.

Hal ini tentu mengingatkan kita bahwa Amerika Serikat dan China adalah dua mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang dalam perekonomian internasionalnya menggunakan kebijakan non blok atau tidak memihak sehingga bekerjasama dengan negara dalam blok apapun termasuk Amerika Serikat dan China.

Saat ini kedua Negara tersebut membuat kebijakan  untuk saling meproteksi bea cukainya pada sector ekspor dan impor. Imbasnya kini Indonesia mengalami penurunan penghasilan di sector produk ekspor yang diakibatkan dari penetapan biaya tarif bea cukainya yang dinilai sangat tinggi. Hal ini tentu juga berdampak pada perekonomian nasional secara umum dimana kebutuhan masyarakat semakin meningkat yang memicu untuk melakukan impor barang yang lebih banyak dibandingkan jumlah ekspor sehingga perekonomian Indonesia menurun.

Konsep proteksionisme yang merupakan turunan dari teori merkantilisme memberikan pandangannya mengenai bagaimana keuntungan harus diperoleh untuk memajukan roda perekonomian Negara, sehingga negara harus memunculkan bentuk proteksionisme untuk melindungi para kaum pedagang dari kerugian yang ditimbulkan oleh pasar bebas dan menyetujui bentuk intervensi negara ke dalam pasar.

Maka dari pada itu Negara harus membangun kerjasama ekonomi untuk membuka pasar bebas demi keuntungan perdagangan yang akan diperolehnya. jika di Indonesia sering kita sebut dengan masyarakat ekonomi asean, karena dasar perjanjian pasar bebas seperti FTA dikendalikan dan disepakati oleh negara. maka mustahil pasar bebas hadir tanpa intervensi negara, sehingga walaupun teori merkantilisme sudah tidak lagi relevan di masa modern namun kebijakan proteksionisme secara tersirat tetap dilakukan oleh negara-negara guna melindungi perusahaan-perusahaan dalam negeri.

Lain dari pada itu ancaman yang paling memungkinkan hadir didepan mata adalah sumber daya manusia yang berdaya saing. Pemerintah boleh saja mempunyai sejuta rencana untuk menghadapi persaingan dagang ini secara global, namun jika Sumber daya manusianya tidak dibekali oleh pengetahuan dan skil yang cukup makan pasar bebas hanya akan menjadi serangan balik kepada Indonesia.

 

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.