Pendemi Covid-19, Dr. Elviriadi; Tetiba Rakyat Terkenang Pemimpin Asketis

Suaraburuhnews.com – Pekanbaru – Pendemi Covid-19 makin menyeruak di Propinsi Riau. Besok (17/4) Walikota Pekanbaru memulai Pembatasan Sosial Besar Besaran (PSBB) untuk mencegah korban yang akan tertular. Peraturan Walikota (Perwako) itupun menyebutkan dengan rinci apa pantang larang bagi masyarakat.

Menyikapi itu, Cendikiawan Melayu Dr. Elviriadi memberi tanggapan saat dihubungi kru suaraburuhnews.com melalui aplikasi whatsaps (16/4) sore kamis.

“Ya, saya sudah baca Perwako, baca persetujan Menkes serta mengikuti terus upaya pemerintah di serata negeri untuk mengatasi Covid-19,” tuturnya mengawali.

Ketua Bidang Pembangunan Berkelanjutan LAM Riau itu mengatakan publik akan menilai bagaimana pemimpinnya mengelola krisis penyakit ini.

“Saya berpendapat pemimpin harus legowo, kembangkan hati yang penuh welas asih kepada rakyat. Solidaritas tidak cuma material (sembako, insentif) atau instruksi – instruksi preventif, tetapi merombak total keprubadian pemimpin itu,” katanya.

Aktivis Majelis Nasional KAHMI itu menjelaskan, rombak kepribadian adalah menurunkan standard gaya hidup mewah dan VIP demi empati dan belas kasih.

“Tetiba rakyat terkenang pemimpin asketik, yaitu pemimpin yang hati dan perasaannya ada bersama kaum terlunta di kalangan rakyat Indonesia. Pak Natsir Perdana Menteri RI yang bajunya bertambal, Wapres Hatta tak bisa bayar listrik, Syafruddin Prawiranegara Presiden Ke 2 RI yang depositonya kosong,” beber aktivis ICMI itu memberi contoh.

Pria gempal yang sering jadi saksi ahli di persidangan itu menilai akibat Covid- 19 yang menderita itu ada 2 (dua) golongan : rakyat miskin dan petugas medis garda depan rentan tertular.

“Kasian Petugas Medis yang rentan tertular, kasian rakyat yang bakal menanggung akumulasi resesi ekonomi, maka jawabnya adalah rindu pemimpin asketik, bukan pemimpin yang terbayangi gemerlap omset dan asset anak cucu,” sindir mantan aktivis mahasiswa itu.

Pendiri Gerakan Masa Depan Indonesia (GMDI) itu menilai saat musibah melanda bangsa, sikap asketislah yang harus dipupuk.

“Selain Perwako dan bantuan pemerintah harus rasional, saya kira segala ambisi memperkuat ekonomi pribadi lunturkanlah. Ganti dengan sikap asketik, yaitu rela susah – susah demi rakyat, mendahulukan rakyat, menyerahkan uang rakyat di APBD/APBN kembali ke rakyat terdampak, membatalkan agenda – agenda pragmatis hedonis politik, dan jujurlah pada diri sendiri. Mudah mudahan tobatnya para elit politik membuat bencana covid-19 dihilangkan Allah SWT,” pungkas akademisi asal Meranti yang istiqamah gundul kepala demi nasib hutan.***

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.