Memikat Angin Istana

Opini
Ditulis wartawan Suaraburuhnews

Barolek godang telah usai. Sesak nafas telah terasa lapang. Kerja berat sudah pun usai. Para tetamupun sudah pulang. Lantas apa yang dapat diambil dari hikmah dari evoria kedatangan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Penjaitan ke Kabupaten Pelalawan tepatnya di Kawasan Teknopolitan.

Yang konon kedatangan tamu ini telah menguras saku anggaran daerah mencapai miliaran rupiah.

Apa yang disampaikan warga Langgam seakan terbukti. Dimana warga pesimis kedatangan Luhut tidak akan berdampak pada kemajuan pembangunan teknopolitan. Yang ada adalah kesibukan warga masyarakat dan pemerintah yang tak bertiduran bermalam-malam, agar acara berjalan sukses.

Dan bagi pejabat pemerintah, mereka dibayar untuk acara evoria tersebut. Dan masyarakat hanya dapat mendengar mereka mencairkan dana segar dari pundi-pundi uang kas daerah yang konon katanya uang rakyat.

Dan terus berlansung, pejabat tinggi negara silih berganti berdatangan. Dan tak terhitung kalinya. Lantas dan perubahan yang ada, khususnya di kawasan teknopolitan, itu tadi mereka datang hanya untuk mencari pundi-pundi pemasukan kantong elit pejabat.

Kemudian yang didapat masyarakat akan kemajuan pembangunan apa?. Yang ada hanyalah Nol /zonk saja.

Terkait pembangunan, sampai sejauh ini, tak bergeser satu batu batapun untuk pembangunan kawasan teknopolitan yang digadang-gadang akan mampu mengangkat ekonomi masyarakat Pelalawan menuju Pelalawan Emas.

Dan yang membuat sesak dada adalah marwah Pelalawan seakan terjungkal sesaat Bupati di hadapan ribuan massa menghiba dan menyodorkan proposal agar Jokowi presiden RI berbaik hati lunak dan bersedia membantu daerah Kabupaten Pelalawan.

Lantas timbul pertanyaan, apakah sebegitu seorang Bupati tapi ini marwah kita sebagai orang melayu terasa tergadai?

Menjadi pertanyaan besar. Apakah Kabupaten Pelalawan tidak termasuk wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Sehingga tak diperhitungkan pemerintah pusat pimpinan Jokowi. Dan harus besujud dahulu melalui proposal

Dari sodoran prosal tadi, tersirat makna bahwa secara prosedural usulan pemerintah daerah tak digubris pemerintah pusat dan harus disodorkan dihapan ribuan pasang mata.

Sehingga inilah yang terjadi, marwah tak lagi dijunjung tinggi asalkan hajat dihati dapat terpenuhi. Wallahu alam bisawaf.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.