LAILATUL QODAR SAAT PANDEMI KORONA

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH***

LAILATUL QODAR merupakan momentum penting dalam kaitannya dengan ibadah Ramadhan. Dalam musim pandemi virus korona tahun kedua dari keberadaan korona ini,  Lailatul Qodar diperingati dengan imbauan tetap menjaga penyebaraannya. Paling akan adalah dengan meningkatkan ibadah di rumah masing masing.  Namun karena sifat ibadah ini harus dilaksanakan di masjid (ayatnya: ngakifuna fil masajid) maka problematikanya adalah bagaimana agar ketentuan tentang hal itu terpenuhi, sementara dalam diri tidak waswas. Hal ini juga mengingat adanya kluster baru yang muncul berasal dari tarawih dengan nama kuster tarawih.

Lailatul Qodar pada bulan Ramadhan tahun 1442 ini bertepatan dengan hari Ahad malam Senin, tanggal 2 malam 3 Mei sampai dengan akhir Ramadhan. Saat ini adalah yang ditunggu tunggu oleh kaum Mukminin, untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara meningkatkan baik kuantitas maupun kualitas amal ibadah, dengan mohon ampunan, bertasbih, bertahmid, bertakbir serta bersholawat dan  lebih banyak membaca Quran.

Hakekat Lilatul qodar

Menyegarkan pikiran kembali, bahwa Lailatul Qadar merupakan malam penuh kemuliaan. Pada malam itu, para malaikat turun ke bumi untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang senantiasa menghidupkan Lailatul Qadar. Allah SWT juga akan melapangkan rezeki bagi mereka yang senantiasa meminta dengan tulus serta mengabulkan permohonan hamba yang memohon kepadaNya.

Di malam Lailatul Qadar, segala amal baik akan diberikan pahala berlipat ganda. Malam Lailatul Qadar tidak disamakan dengan malam-malam lainnya. Para ulama berpendapat, malam Lailatul Qadar merupakan malam yang begitu mulia dan utama. Nilai ibadah pada satu malam di antara malam malam yang berakhir sampai dengan penutup Ramadhan itu setara dengan seribu bulan. Malam itu jatuh pada malam ganjil dari sepertiga Ramadhan yang akhir.

Bagi siapa saja yang senantiasa beribadah dengan tulus, mendirikan salat baik salat wajib maupun sunah, membaca Al-Quran, berzikir dan melakukan kebaikan lainnya akan mendapatkan kesejahteraan dan ketenangan. Mereka yang senantiasa menghidupkan malam Lailatul Qadar juga akan dijaga oleh para malaikat yang turun ke bumi.

Sebagai ibadah yang bersifat utama, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kapan persisnya waktu Lailatul Qadar turun. Sejumlah hadis pun hanya menyebutkan malam Lailatul Qadar jatuh di 10 malam  terakhir bulan Ramadan. Untuk itu, dianjurkan bagi setiap umat Islam agar meningkatkan ibadah dan amal soleh di waktu tersebut. Tujuannya agar tidak kehilangan atau terelewatkan datangnya  malam Lailatul Qadar.

 

Pertanda Lailatul qadar

Sepanjang yang dapat dipahami secara lahir, sebagaimana dinukilkan dalam hadis bahwa ada tanda tanda Lailatul Qadar yang turun pada salah satu malam di antara malam malam ganjil dari 10 hari terakhir  Ramadhan. Beberapa pertanda yang dapat diamati, diantaranya adalah suasana keesokan hari setelah malam Lailatul Qadar turun. Esok hari dimaksud, matahari terbit dalam keadaan teduh, jernih dan seperti tidak ada sinar matahari pagi. Cuaca tidak begitu cerah, namun teduh serta menenangkan. Dalam hadis sohih disebutkan, redupnya matahari itu karena tertutup oleh sayap malaikat yang kembali ke langit seusai turun ke langit dunia  pada malam harinya.

Pada saat turun di malam itu, udara tidak panas maupun dingin, tidak berawan dan tidak ada angin, apa lagi badai. Suasana begitu hening dan teduh. Keadaan menjadi benar benar sangat tenang, nyaman.

Pada saat malam, umat Islam merasakan kenikmatan tersendiri saat beribadah dengan sungguh-sungguh. Hal ini lantaran malaikat turun ke dunia dan menyambut turunnya lailatul qadar atas perintah Allah SWT. Oleh karena itu, pada malam yang mulia tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan, khususnya sholat. Amalan ini hendaknya dilaksanakan secara totalitas, melebihi malam yang biasa dan hanya mengharapkan Ridho Allah SWT. Hal ini sebagaimana dicontohkan rasulullah SAW yang tidak pernah melewatkan salat malam ketika bulan Ramadan, bahkan beliau menambahkan kuantitas dan kualitas ibadahnya dibanding 20 malam pertama bulan Ramadan.

Sebuah riwayat menyebutkan, Rasulullah SAW membangunkan keluarganya di malam hari, yang diperkirakan merupakan turunnya malam Lailatul Qadar. Malam itu juga dipergunakan oleh Rasuluullah SAW untuk membaca Al Quran. Baik sholat maupun membaca Quran dilakukan di masjid. Berbagai ibadah di masjid itu dalam quran disebut Iktikaf. Arti iktikaf adalah   diam beberapa waktu dalam masjid dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah SWT dengan cara meningkatkan ibadah sebagaimana dimaksud.

Bagi siapa saja yang secara sadar mengabaikan malam tersebut maka akan menjadi orang yang merugi. Mereka melewatkan kesempatan untuk mendapatkan banyak pahala dan keutamaan, yang bahkan setara dengan seribu bulan sebagaimana dinukilkan dalam Quran.

Jadi intinya pada malam dimaksud ini dianjurkan bagi kaum muslimin untuk lebih bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah SWT untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar. Janji Allah SWT sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah SAW, jika telah berbuat demikian maka akan diampuni Allah SWT seluruh dosa-dosanya yang telah lalu.

Musim virus korona ini hendaknya tidak mengurangi, bahkan harusnya menambah semangat untuk menyambut Lailatul Qodar. Perstiwa pandemic virus korona  hendaknya tidak menjadi halangan, dan kondisi ini hendaknya diletakkan sebagai peristiwa yang jauh di bawah kepentingan untuk menyambut Lailatul Qodar. Justru pada doa yang dipanjatkan hendaknya disertai dengan harapan sungguh sungguh, semoa pandemik virus korona ini cepat berlalu.*** Insyallah dengan doa yang tulus disampaikan pad malam yang penuh berkah ini dikabulkan Allah SWT. Amin.***

*** Notaris, Pengurus Muhammadiyah Sampit.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.