KARENA VIRUS KORONA, HAJI TIDAK JADI?

Oleh

Dr. H. Joni,SH.MH

VIRUS KORONA (Covid- 19) adalah nama yang paling banyak disebut untuk saat ini, bahkan untuk abad ini. Pengaruh virus ini bisa disebut melampaui batas tempat dan waktu. Di seluruh dunia orang membicarakannya. Pengaruhnya begitu luas, hampir seluruh kehidupan manusia dalam interksi sosial di planet bumi semuanya terpengaruh virus korona. Tak terkecuali dalam masalah agama. Virus ini mempengaruhi begitu dalam pada masalah agama.
Satu diantara pengaruh virus ini adalah penyelenggaraan ibadah haji, tahun 2020. Dalam perkembangannya, awal virus ini melanglangbuana dari habitatnya di Wuhan, Tiongkok telah membuat pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA) mengumumkan pembatasan lunak untuk mengunjungi Makkah Almukarromah. Orang boleh datang ke masjidil haram untuk thawaf saja. Tidak boleh umrah. Berikutya, diumumkan bahwa masjidil haram tertutup untuk pendatang yang melakukan ziarah. Hanya boleh penduduk lokal saja yang datang ke sana melakukan thawaf. Pada perkembangan berikutnya seluruh penduduk pun dilarang untuk mendatangi mesjidil haram, kendatipun untuk thowaf. Masjidil haram tutup total.

Nilai Haji, khususnya Thawaf

​Satu diantara sekian banyak pertimbangan dalam menentukan diselenggarakan atau tidaknya pelaksanaan ibadah haji adalah soal thawaf. Begitu penting dan mendasarnya makna thawaf ini, bahkan bersangkut paut dengan kelestarian bumi. Benar, bahwa berakhirnya bumi atau dalam bahasa agama hari kiamat terpulang dan tergantung kepada Allah azza Wajalla. Namun dalam perhitungan manusia, sebagaimana dinukilkan dalam hadist bahwa berakhirnya bumi ini diawali dengan berbagai pertanda, baik pertanda kiamat kecil (shugro) maupun kiamat besar (sughro).
​Pencermatan terhadap berbagai pertanda ini didasakan pada keyakinan tentang kebenarannya. Satu diantaranya adalah ketika perputaran thawaf berhenti, maka perjalanan bumi akan menjadi tidak seimbang. Thawaf melambangkan perputaran bumi yang dalam hadis disebutkan diawasi oleh malaikat. Dengan thawaf, mengeluarkan sinar cemerlang yang kemudian menutup warna kelam sebagai perlambang dosa yang diakukan oleh penduduk bumi, sehingga keseimbangan ini menjadikan bumi terus berputar dinamis.

​Manakala perputaran itu menyentuh titik ketidakseimbangan, menjadikan dunia menderita, dengan banyaknya musibah yang turun ke bumi.  Semakin besar atau semakian banyak perputaran, akan menjadikan keseimbangan yang memberatkan penghapusan dosa. Artinya peristiwa yang bermuatan musibah menjadi berkurang. Sebaliknya jika perputarn itu hanya sedikit, tidak seimbang dengan dosa yang dilakukan oleh manusia, maka yang terjadi adalah banyaknya musibah di muka bumi, terefleksikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari wabah penyakit, musibah alam dan sebagainya.
​Hal inilah yang kiranya juga menjadi pertimbangan dari pemerintah KSA yang menjadi pelayan dua kota suci, yaitu Makkah Almukarromah dan Madinah Almjunawarah untuk kembai menghidupkan ibadah haji khsusunya thowaf tahun 2020 ini. Bedasarkan siaran yang disampaikan oleh pemerintah KSA, untuk saat ini bisa diakukan thowaf, namun belum diperkenankan umrah. Berarti sya’I sebagai bagian dari ibadah umrah msih belum boleh dilaksanakan.

Perkembangan Berikut

​Ibadah haji, sebagai rukun Islam kelima belum pernah dibatalkan pelaksanaannya, sejak ada kewajiban haji puluhan abad silam sampai sekarang. Pembatasan tertentu dari sebuah negara yang dilarang masuk wilayah KSA oleh pemerintah setempat, maksudnya KSA sudah banyak dilakukan. Oleh karena jamaahnya dinilai bermasalah, warga dari negara tertentu tidak boleh masuk KSA untuk berhaji. Namun kali ini, pembatasan tidak diperbolehkan masuk wilayah KSA untuk berhaji berlaku untuk seluruh negeri.
​Bagi Indonesia, yang antriannya begitu panjang, sampai puluhan tahun untuk berhaji, tentu menjadi masalah tersendiri, ketika perjalanan haji dihentikan. Namun dengan kabar gembira, menyusul kebijakan pemerintah KSA yang berjanji akan memberikan kejelasan informasi mengenai pelaksanaan ibadah haji tahun 2020 pada akhir April, harapan muncul Kembali. Besarnya harapan untuk dapat mengunjungi Baitullah tecermin dari doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.

​Makna kabar ini begitu penting, karena secara indivudal merupakan kabar gembira bagi calon jamaah yang memperoleh giliran tahun 2020 ini. Sementara pihak Kemenag menyiapkan  sekenario berupa keberangkatan haji yang  terus berlangsung sesuai tahapan yang diasumsikan bahwa ibadah haji tetap diselenggarakan. Namun juga telah disiapkan skenario terburuk andai pemerintah KSA tidak menyampaikan informasi apapun terkait pelaksanaan ibadah haji. Skenario terburuk yang dimaksudkan adalah ketika sampai akhir bulan Mei 2020 tak ada kabar, Kemenag bakal memutuskan menunda keberangkatan jemaah haji.

​Dengan pengumuman dari pemerintah KSA akhir April, maka setidaknya masih ada waktu tersisa untuk persiapan keberangkatan haji tahun 2020. Dengan pertimbangan bahwa akhir Mei 2020 merupakan waktu paling lambat yang disanggupi Kemenag untuk melakukan percepatan persiapan, menjadi hidup kembali. Hal ini mengacu pula paa selesainya beberapa tahap persiapan haji, mulai dari pelunasan biaya perjalanan, persiapan yang sudah selesai dari para petugas, pelayanan jamaah terutama di KSA, , transportasi baik untuk pulang pergi maupun Ketika di KSA, asrama haji termnasuk catering semuanya sudah siap. Terpenting adalah manasik haji yang sudah diselenggarakan sesuai jadwal, sehingga seluruh persiapan yang final itu mempermudah sendainya ibadah tetap dilksanakan.

​Apapun yang terjadi, seluruh komponen masyarakat dan secar individual seluruh warga muslim berharap agar pelaksanaan ibadah haji tetap jadi dilaksanakan. Konsekuensi baik berdasarkn syariat maupun perhitungan logika manusia lebih banyak mudarat ketika tidak dilaksanakan ibadah haji, dibandingkan manfaatnya. Artinya manfaat diselenggakan ibadah haji jauh lebih besar. Toh untuk saat ini virus korona sudah mulai mereda. Ditandai dengan longgarnya pelaksanaan lockdown dan social distancing oleh aparat pelaksana, dan semakin banyaknya pasien korona yang ternyata sudah melalui proses penanganan menjadi sambuh dan melakukan aktivitas sehari hari secara normal.

​Harapan ini tentu tidak berlebihan, karena pertimbangan di atas. Ditambah lagi dengan kenyataan tingginya tingkat disiplin warga masyarakat untuk tetap mematuhi aturan dan imbauan yang disampaikan oleh pemerintah dan pihak pelaksana penghentian wabah virus korona. Hal ini menjadi saham besar pula bagi pemerintah untuk secara konkret memperjuangkan agar ibah haji tetap terselenggara. Artinya harus ada keaktifan dari pemerintah untuk memberi masukan kepada pemerintah KSA agar tetap diselenggaraakannya ibadah haji tahun 2020 in. Jangan hanya menunggu apa yang menjadi kebijakan pemerintah KSA, namun dengan memberikan pertimbangan aktif ini kiranya juga menjadi petimbangan dari pemerintah KSA untuk mengumumkan pada akhir April nanti bahwa ibadah haji tahun 2020 tetap diselenggarakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Semoga.***

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.