Helikopter itu Masih Terbang Om

Opini

” Om, helikopter itu masih terbang Om,” kata keponakanku yang Taman Kanak-kanak itu.

Saya masih di dalam kamar tidur. Keponakanku itu berlari kecil menuju menghampiri ku. Dan saya langsung bangun dan kumainkan ponselku. Kulihat jam di ponsel aku itu menunjukan baru pukul 06.50 WIB.

Tanganku ditarik ponakanku itu menuju halaman rumah dan menegadah ke langit.

” Itu Om…. itu Om, helikopternya,” kata ponakanku sambil kegirangan dan menunjuk helikopter yang terbang itu.

Selelah menghilang dari pandangan helikopter itu kugendong keponakanku itu masuk ke dalam rumah. Pikiranku terlintas bahwa asap sudah berbahaya.

Hari ini asap makin parah. Tak tau lagi asal muasal asap ini datangnya dari titik api mana. Katena sudah merata dan menyeluruh ke masyarakat Riau.

Udara tak bersih lagi. Penyakit ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut) mulai menyerang. Mata sudah perih. Napas sudah ngos-ngosan. Tanah mengering, sungai-sungai surut dan mengering. Sinar matahari sangat terik.

Jajaran pemerintah, TNI, POLRI, swasta dan masyarakat seperti tak ada hentinya melawan dan melumpuhkan bencana asap ini. Tiap saat mencari titik api untuk dipadamkan.

Tak sedikit biaya bencana Karhutlah. Helikopter terbang tak ada hentinya untuk memedamkan titik api. Pemerintah, TNI POLRI, masyarakat siaga untuk melenyapkan asap. Mudah-mudahan Allah akan turunkan hujan melenyapkan kebakaran dan asap.(opini)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.