Di Sini Aku Berontak

Membaca berbagai pemberontakan yang lama terjadi di tanah air tentu tidak ada kaitan dengqn opini ini Tulisan ini bukan bermaksut mengungkit kembali peristiwa Pemberontakan G – 30S/PKI pada tahun 1965 yang lalu. Mengulangi peristiwa pemberontakan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), pemberontakan DI/TII dan pemberontakan lainnya yang terjadi di tabah air.

Cuma sebagai sebuah pemikiran fiksi dengan fakta imajinasi yang terjadi.

” Aku ingin berontak ! kata Ali kepada sahabatnya Abdul. Dan Abdul terkaget-kaget melihat Ali mengucapkan kata berontak itu. Dan dalam suasana kecemasan, Abdul bertanya kepada Ali,” Kenapa”? tanya Abdul singkat.

” Di dalam diriku sudah mengelegak, mendidih darahku menahan berontak,* ucap Ali.

Abdul makin terheran-heran melihat tingkah Ali jauh berbeda dari sebelumnya.

” Apa yang membuatmu ingin berontak,”?

Ali yang dari tadi menatap tajam ke arah langit – langit rumahnya berwarna putih itu. Rumah peninggalan bapaknya yang sudah pergi selamanya.

” Mestinya kita ini sudah bahagia, sejahtera,” kata Ali tegas dan dalam.

Tanpa ada tempo, Abdul memberikan pujian kepada Ali.” Loh kok hebat kamu kalau itu yang kamu berontak,” puji Abdul.” Ya iyalah, karena negeri ini kaya raya. Tetapi jutaan mata menjerit di depanmu,” ucap Ali lagi.

Dalam nada pelan dan keheranan Abdul menayakan lagi,” Kepada siapa kamu berontak? Ayah atau kakekmu? Bukankah ayah dan kakekmu sudah meninggal dunia,”? kata Abdul.

Ali kembali berdiri yang barusan duduk di kursi kayu yang terletak di pelataran rumahnya.

” Aku berontak kepada siapa saja. Kepada mereka yang menindas hak-hak rakyat. Memakan duit rakyat. Pemimpin pembohong yang tak memenuhi janji-janji politiknya. Beromtak kepada wakil rakyat yang tidak mempedulikan kebutuhan masyarakat,” kata Ali. Abdul sahabat dekatnya merinding mendengar ungkapan Ali itu.

” Loh banyak sekali yang kamu berontak,”? Tanya Abdul lagi. ” Itu belum cukup, masih banyak yang lain,” jawabnya.

“Lalu Siapa lagi,”? Tanya Abdul yang dari tadi bertanya terus kepada sohibnya itu. Sambil melihatmenatap Ali dan menjawab,” Penegak hukum yang tidak adil. Para koruptor pencuri dan maling uang rakyat,” kata Ali agak dalam.

Dalam suasana itu Abdul memberi pandangan,” Kalau itu yang kamu berontak, terlalu berat lawanmu, terlalu kuat lawanmu,” kata Abdul. ” Di sini struktur kekuasaan dibuat untuk penindasan orang miskin, orang lemah. Perolehan kekuasaan hanya sebagai simbol kekuasaan bukan simbol keberhasilan perjuangan membantu rakyat. Setiap habis masa periode kepemimpinan mereka berlomba lagi merebut struktur kekuasaan. Begitulah seterusnya tanpa serius menagani prolematika kehidupan publik,” tutup Ali kepada sahabatnya Abdul.

Hari sudah sore. Matahari sudah condong ke barat. Sejenak Ali ke dalam kamarnya dan keluar lagi menghampiri sahabatnya itu dan mereka meninggalkan rumah pergi mandi bersama- sama ke sungai yang tak jauh dari rumah Ali.

Sebuah ilustrasi singkat berontak antara dua sahabat.

Siapakah pemberontak itu? Camus menjelaskan pemberontak itu adalah seseorang yang berkata “tidak”. Seseorang yang selama hidupnya menerima perintah, dan memutuskan mengatakan “tidak” pada perintah baru. Perlawanan yang dilakukan, membuat seseorang menjadi manusia yang utuh. Dengan pemberontakan, kesadaran itu lahir. Kesadaran agar dihormati, menjadi setara dalam hak, dan menolak penghinaan..(Aku Berontak, Maka Kita Ada! oleh Iqbal Ahmady M Daud)

(Opini-sbnc)

Poto : Ilustrasi, internet.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.